Saya mengenal anak-anak muda ini. Mereka tinggal di desa Baramamase, Luwu. Ada yang sudah sarjana, beberapa masih kuliah atau bersekolah di SMA/SMK dan sebagian lagi tak bersekolah lagi. Mereka belum lama mendirikan organisasi bernama Pemuda Peduli Kampung (PPK).

Saat itu, awal September 2018 atau tak lama setelah organisasi mereka berdiri, beberapa dari kami di Komunitas Ininnawa bertandang ke markas sementara mereka. Kami berjanji menemani mereka memulai mengorganisir diri. Kami sudah menyiapkan satu formula pengorganisasian untuk ditawarkan kepada mereka, yakni melakukan kerja pengorganisasian yang mengarah pada kemandirian ekonomi anak muda.

Mereka setuju dan kami memulainya dengan memperkenalkan beberapa metode mengenali desa mereka sendiri. Seperti biasanya, kami percaya pada kerja penelitian dan pengorganisasian yang dilakukan secara partisipatif. Kami menolak kerja mengorganisir jarak jauh. Itu pulalah yang mendasari empat pengorganisir komunitas (para geng volunteers payo-payo) yang lebih muda tinggal dan mulai merencanakan sejumlah kegiatan bersama-sama setelah kami memberinya beberapa pelajaran pengantar.

Di bulan-bulan awal pengorganisasian, anggota PPK kembang-kempis. Tapi beberapa tetap bertahan mengikuti rencana awal, meneliti desa dan mengorganisir diri. Asfriyanto Dg Rewa (Ketua komunitas) dan Ais Em Er Aris (spesialis pemetaan spasial) dan Ketua Bao beberapa kali juga datang memperkuat semangat mereka.

Sampai suatu ketika, setelah mempelajari temuan-temuan dalam penelitian desa dan kewirausahaan desa, mereka lalu memutuskan membangun sebuah perpustakaan plus cafe sebagai model sekretariat mereka. Kebetulan ada rumah kosong yang lama tak ditempati. Pemerintah desa mengijinkan rumah (jika tak salah adalah bekas kantor Koperasi desa) untuk ditempati. Tapi mereka harus kerja keras merenovasinya.

Komunitas dan Perpustakaan kata kerja bersedia menemani mereka. Mahardika (arsitek komunitas) dan pustakawan kata kerja Eka Besse Wulandari siap sibuk bersama. Maka jadilah sebuah rancangan pustaka-kafe dan mereka mulai bekerja. Minggu demi minggu mereka berkeringat membersihkan rumah, menggergaji kayu, mengaduk semen-pasir, mengecat sampai membuat rak-rak buku. Dengan rajin dan riang tentu saja.

Tetapi kadang ada juga di antara mereka baku bombe, atau ada sedikit masalah di antara mereka. Begitu aku sesekali mendengar ceritanya. Tapi mereka tetap saja bekerja. 4 pengorganisir komunitas Ahsan SetiawanHendri Gunawan ZmoAzis M N dan Zhem Al Muzakkar bergantian menemani mereka (sebenarnya tim ini mengorganisir dua desa, satunya di desa Karondang, Luwu Utara).

Pustaka-kafe itu sudah nyaris rampung. Rak buku sudah tersedia. Mereka menamai rumah mereka KAFE BACA INSPIRASI. Oia, sejak awal gagasan membangun pustaka itu muncul, semua anggota Komunitas plus Koperasi Isangkilang berjanji menyumbang masing-masing 3 buku. Hm, jika dikira-kira, sudah puluhan buku akan terkumpul.

Nah, jika mata Anda sudah sampai pada kalimat ini, maka Permintaan buku dari rak-rak buku atau tas kalian dengan senang hati saya ajukan. Bersiaplah menyumbangkan bagian dari harta penting kalian, buku! Klik saja foto-foto berikut. Ada satu foto yang akan memandumu menerbangkan buku-buku pemberianmu ke sana. Bukankah takdir buku adalah berpindah tangan?

Terima kasih ya!
Mohon bantu disebarkan juga

_Ishak Salim