Kamis, 11 Oktober 2018.

Beberapa hari sebelumnya. Eka Irawati menghubungi Ishak Salim. Dia memperkenalkan diri dan lembaganya, Indonesia Care for Children (ICFC), dan menanyakan aktivitas yang dijalankan TRK Insist di lokasi pengungsian, khususnya terkait anak-anak. Ishak menjelaskan belum ada program khusus untuk anak-anak. Tapi ada data mengenai kondisi anak-anak makin rentan.  Eka menjelaskan dukungan psikososial yang dapat diberikan ICFC untuk anak-anak. Ishak menghubungi Rahmat atau biasa disapa Oyong di Pos Sigi yang dikoordinir Karsa Institute. Oyong menjelaskan, di beberapa pos pengungsian, anak-anak mulai terserang penyakit, batuk, flu dan ISPA. Tampak dari tingginya permintaan orang tua terkait obat flu dan batuk anak—non resep di layanan kesehatan darurat. Anak yang sakit di kamp pengungsian maupun yang bertahan di tenda darurat di sekitar rumah adalah karena mereka terpapar debu dan udara malam akibat tidur di luar. Sementara sistem sanitasi memburuk dari hari ke hari.

Gempa susulan yang belum berhenti,  juga membuat anak-anak dan orang tua rentan mengalami stress. Kekerasan  dari orang tua, terutama verbal meningkat. Anak-anak perlu dikeluarkan dari situasi tersebut. Hasil pengamatan selama kunjungan rutin di sejumlah shelter, Pos Sigi (Karsa Institute) menyebut beberapa hal yang perlu dilakukan, yakni program permainan untuk anak-anak yang bersifat kolektif, pengadaan vitamin dan obat-obatan dan pakaian anak-anak, konselor, susu formula, dan popok sekali pakai. Ishak menyampaikan hal tersebut ke Eka. Dalam dua hari Eka sudah memastikan akan ada dua orang ke Palu menjalankan program Anak Bermain dan membawa sejumlah kebutuhan seperti dipesan Oyong. Waktunya tidak lama. Hanya dua-tiga hari. Pos Sigi diharapkan dapat melanjutkan dengan caranya sendiri.

Tadi pagi, Irwan Dwi Ardhika Rinaldi dan Rhiana Zari pristyarini (seorang guru TK) tiba di Bandara SIS Al Djufri. Oyong memastikan menjemput keduanya dan setiba di Pos Karsa, mereka melakukan briefing. Usai briefing, mereka menuju shelter pengungsian Mpanau, Biromari, Kabupaten Sigi. Di shelter sudah berdiri arena bermain dan program bermain bersama anak-anak dilakukan selama 2 – 3 jam. Durasinya memang dibuat singkat karena jika terlalu lama akan membuat anak-anak kelelahan.

Sementara itu, menjelang dzuhur di Posko Induk TRK Insist, Taman Belajar ININNAWA, Bantimurung-Maros. Barang-barang dari Lyan yang menghubungi Ishak dua hari sebelumnya telah tiba. Selanjutnya barang itu akan dibawa ke Sulawesi Tengah dan didistribusikan ke tiga pos TRK Insist di Donggala, Palu, dan Kabupaten Sigi. Dari ketiga pos ini, berdasarkan hasil penjajakan  TRK Insist, akan didistribusikan ke sejumlah shelter pengungsian. Malam harinya, di Posko TRK INSIST, Donggala. Sejumlah bantuan datang dari Napu, Desa Watu Maeta, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Itu adalah sayur mayur yang diantar menggunakan mobil bak terbuka. Sayur tersebut diantaranya kol, wortel, sawi hijau, dan labu. Bantuan ini akan diatur distribusinya ke titik pengungsian.

 

*Beberapa istilah seperti ‘trauma healing’ dan ‘trauma’ sengaja diganti. ‘Trauma healing’ jadi ‘dukungan psikososial’ dan ‘trauma’ cukup menggunakan kata stress saja. Alasannya ada perubahan dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) termasuk dalam gangguan pasca trauma (PTSD). Perubahan kriterium dalam DSM terbaru (edisi kelima) untuk PTSD ada pada durasi mulainya. Pada PTSD yang dialami karena konflik, diagnosis baru bisa ditegakkan jika stress terus berlanjut lebih dari sebulan setelah konflik. Untuk PTSD yang dialami karena bencana, kecenderungan episode gangguan baru dimulai enam bulan setelah bencana. Selain itu kecenderungan statistiknya, trauma hanya dialami 4-6 persen dari seluruh populasi. Penurunan kondisi mental memang terjadi setelah ada peristiwa seperti bencana, tapi itu reaksi normal, senormal orang-orang yang takut ular atau singa. Trauma sendiri adalah jenis stress yang terus berlanjut bahkan setelah stressornya (penyebab stress) sudah disingkirkan. Menggunakan kata ‘trauma’ untuk menyebut orang yang hanya mengalami stress justru beresiko memicu stress itu benar-benar menjadi hal traumatik.