Kamis, 18 Oktober 2019

Hari ini bantuan logistik yang berangkat dua hari lalu tiba di Pos Limboro. Sementara beberapa orang anggota tim berangkat ke Palu dan mengunjungi dua posko pengungsian. Kota Palu di Petobo 2 dan STQ.

Pengungsi Petobo 2 menginformasikan bahwa masih ada 13 KK yang mendiami 2 tenda utama dan 4 tenda bantuan. Air masih jadi persoalan. Pengungsi  mengharap pasokan air dari PDAM yang dipasok setiap 3 hari, penampung air yang dimiliki juga terbatas.

 

 

Dapur umum pengungsi bergantung pada kayu bakar, karena kompor sedang rusak. Ada satu pengungsi bernama Rolin yang jadi korban kebakaran saat berusia 8 bulan, dan sejak itu lumpuh. Pengungsi meminta kursi roda untuk Rolin dan celana pendek untuk yang lain.

Beberapa perempuan yang berada di pengungsian juga menjelaskan soal kebutuhan mereka akan pakaian dalam dan menjelaskan ukuran masing-masing.

Pengungsi di Posko STQ menjelaskan ihwal pemindahan mereka sebelumnya ke kampus UNISMUH, lalu diputuskan kembali ke STQ. Karena UNISMUH kalah teduh. Hingga saat ini pengungsi masih butuh pasokan pangan, serta lampu dan MCK. Koordinator posko menjelaskan bahwa Tentara masih akan meminta mereka pindah ke depan kampus UNISMUH.

 

 

Beberapa hari sebelumnya dibuat WC darurat. Namun belum dapat digunakan. Pasokan air bersih mereka dibantu oleh PDAM dan Sampoerna. Beberapa anak sudah 3 kali diperiksa oleh dokter karena mengalami gatal-gatal, dan batuk. Selain menaruh logistik di Posko STQ, satu tenda terpal ditinggalkan disana agar dapat digunakan oleh pengungsi.

Pegiat literasi di Yogyakarta juga masih menggelar penggalangan donasi lewat lapak buku murah di Warung Mojok. Hari ini adalah hari kelima, total dana yang terkumpul sebanyak 2.711.500 rupiah.