Rabu, 21 November 2018

Saat melakukan pengkajian kebutuhan penyintas kedua kalinya, TRK Insist mendapat masukan dari direktur Karsa Institute yang berposko di Jalan Karanja Lembah, Kabupaten Sigi. Katanya, ada baiknya jika pengkajian ini menyasar informan dari ibu-ibu. Informasi yang diterima akan berbeda jika merujuk kepada aparat pemerintah desa. Dua organisasi berbasis perempuan di dua desa di Kecamatan Kulawi (Ngata/desa Namo dan Ngata Boladangko), PKK dan Majelis Taklim juga menyetujui gagasan ini setelah berdiskusi dengan TRK.

Merasa bisa kerja cepat, baik pengurus Majelis Taklim maupun Ibu-ibu PKK berjanji pada hari itu juga melakukan pendataan dan menyerahkan datanya via Whatsapp dua hari kemudian. Benar saja, dua hari kemudian data telah siap. Jika saja jaringan internet baik, maka foto-foto dari hasil pendataan akan tiba di hari ketiga.

Data tersebut kami input  dan mulai mencaritahu dimana barang-barang kebutuhan rumah tangga bisa dibeli dan berapa harga peritem barangnya. Dari pengecekan di sejumlah toko-toko di pasar lokal dan toko bangunan, ada sejumlah barang tidak tersedia: meja lipat untuk belajar siswa smp misalnya hanya ada sekitar 20 buah dari 400-an yang dibutuhkan untuk 3 desa (salah satunya di kecamatan Banawa Tengah, Donggala). Kepercayaan bahwa warga bisa mendata dirinya secara mandiri tanpa harus bergantung kepada lembaga-lembaga pembangunan yang mulai marak di kota maupun kabupaten di Palu, Sigi dan Donggala terbukti adanya. Warga bisa, ibu-ibu mumpuni!