Sabtu, 6 oktober 2018.

Warga berada di lokasi pengungsian sejak hari Sabtu, 29 September 2018. Rata-rata dalam satu tenda dihuni oleh 4 kepala keluarga. Mereka berbagi persediaan makanan yang tersisa untuk bertahan, juga buah seperti pisang yang direbus sebagai makanan tambahan. Sejauh ini, baru satu kali bantuan datang, itu adalah beras dari kecamatan seberat 5 Kg untuk tiap KK, itupun dirasa belum cukup.

Di Desa Sibalaya Selatan, warga memanfaatkan bangunan pasar. MCK yang tersedia hanya satu, shelter tidak tertutup rapat. Beruntung, ada kiriman air bersih dari pemerintah. Dua bayi lahir di lokasi pengungsian. Dan gempa masih terus terjadi.

Tim TRK Insist bersama komunitas Bantaya melakukan penjajakan untuk mengindentifikasi posko penyintas. Beberapa pemuda lokal juga dilibatkan. Penjajakan berlangsung sejak pukul 08:00-17:00 WITA.  Hal yang diidentifikasi adalah  kondisi posko, fasilitas, kebutuhan terkini, dan pengelolaan posko. Saat ini, hasil penjajakan sedang di-input dan akan dikomparasi dengan data kependudukan terdahulu.

Di Kabupaten Sigi, Kecamatan Tanambulava, penjajakan dilakukan oleh lham (LPTP) dan Ucuk (Karsa). Disana 95% rumah rusak. Tanah bergerak, menggeser jalan dan perumahan sejauh 800 meter. Sementara di Kecamatan Kulawi yang dihuni 378 KK, 80% rumah rusak, dan 8 orang meninggal.